Perlukah pemeriksaan penyakit menular seperti TORCH (Toxoplasmosis, Rubella, CMV, dan Herpes Simplex Virus) sebelum hamil bahkan sebelum menikah di lab?

Penting diketahui, berikut ini adalah beberapa contoh penyakit menular yang bisa berakibat serius pada janin yang dikandung seperti Toxoplasmosis, Rubella, Hepatitis B Virus (HBV), Herpes Simplex Virus type 2 (HSV 2):
foto perkembangan janin

Toxoplasmosis.

Toxoplasmosis adalah penyakit yang disebabkan oleh kuman parasit bersel satu (protozoa) bernama Toxoplasma gondii. Sekitar 80-90% infeksi Toxoplasma tidak bergejala (asymptomatic). Gejala infeksinya-pun bisa mirip flu yaitu demam dan sakit tenggorokan. Wanita yang menantikan kehamilan ditekankan agar mewaspadai Toxoplasmosis karena penularan ke fetus bisa menyebabkan keguguran atau cacat lahir seperti kebutaan.
Penelitian menunjukkan bahwa Toxoplasma sering ditemukan pada hewan peliharaan terutama kucing. Penularan terjadi ketika manusia menyentuh kotoran atau tanah bekas kotoran hewan peliharaan. Resiko infeksi juga meningkat ketika mengonsumsi daging mentah atau kurang masak. Infeksi dapat dicegah dengan menjaga kebersihan dan kesehatan hewan peliharaan, mengenakan sarung tangan saat membersihkan kotoran hewan, mencuci tangan setelah menyentuh tanah, dan menghindari konsumsi daging yang kurang masak. Wanita hamil seharusnya menjauhi kotoran hewan peliharaan. Toxoplasma yang terdeteksi sebelum kehamilan bisa segera diobati sehingga mencegah penularan ke fetus.

Rubella.

Rubella atau campak Jerman (German measles) adalah infeksi virus yang umumnya menyerang anak-anak. Infeksi Rubella biasanya tidak berbahaya dan virus akan hilang dengan sendirinya. Penderita bahkan belum tentu mengalami gejala apapun. Kekebalan terhadap Rubella akan didapat setelah sembuh dari infeksi. Gejala Rubella mudah terlewatkan karena bisa mirip flu yaitu batuk, pilek, sakit tenggorokan, sakit kepala, pegal-pegal, dan demam. Gejala juga bisa disertai dengan munculnya bintik-bintik merah (rash) yang dimulai dari wajah dan menyebar ke seluruh tubuh. Namun bintik-bintik ini biasanya hilang dalam seminggu. Penanganan biasanya cukup dengan beristirahat dan minum obat anti demam.
Penularan Rubella adalah melalui udara (airborne) ketika penderita batuk. Walaupun tidak tergolong berbahaya, virus Rubella bisa berakibat fatal pada janin. Ibu yang terinfeksi Rubella bisa menularkan virus tersebut ke janin yang dikandungnya sehingga menyebabkan Congenital Rubella Syndrome (CRS) saat lahir.
Dampak CRS antara lain adalah kelainan jantung, gangguan pengelihatan atau pendengaran. CRS juga bisa menyebabkan kelahiran prematur. Maka pemeriksaan Rubella sangat dianjurkan pada wanita sebelum hamil. Berdasarkan hasil pemeriksaan, calon ibu kemungkinan akan dianjurkan oleh dokter agar menerima vaksinasi Rubella dan menunda kehamilan selama tiga bulan setelah vaksinasi untuk mencegah infeksi Rubella saat hamil nanti.

Hepatitis B Virus (HBV).

HBV menyerang liver dan bisa menyebabkan cirrhosis (pengerasan pada liver), kanker, gagal fungsi liver, dan kematian. Gejala infeksi HBV adalah perubahan warna kulit dan bola mata menjadi kuning (jaundice), sakit perut, nafsu makan hilang, mual, dan sakit sendi. Penularan bisa terjadi melalui hubungan sex bebas, konsumsi narkoba dengan jarum suntik yang tidak steril, cuci darah (hemodialysis), atau dari ibu ke janin yang dikandung. Ibu hamil yang tidak menyadari dirinya terinfeksi HBV bisa menularkan virus ini kepada janinya dengan 90% resiko penularan.
Infeksi HBV bisa dicegah dengan vaksinasi Hepatitis B, menghindari perilaku seks bebas, menghindari narkoba atau tato kulit, dan menghindari pinjam-meminjam peralatan pribadi yang kemungkinan pernah bersentuhan dengan darah seperti pisau cukur dan sikat gigi.
Infeksi HBV dideteksi dengan tes HBsAg pada darah. Ibu hamil dengan HBsAg positif harus menyediakan Hepatitis B Immuno Globulins (HBIG) dan vaksin untuk bayinya yang harus disuntikan dalam waktu 12 jam setelah dilahirkan.

Genital Herpes Simplex Virus (HSV type 2).

Infeksi HSV 2 adalah penyakit hubungan seksual (PHS) dengan masa inkubasi rata-rata 7 hari setelah hubungan sex. HSV 2 bisa ditularkan ketika bersentuhan dengan air liur, cairan di alat kelamin, atau luka pada kulit pengidap HSV.
Tanda-tanda infeksi HSV 2 berupa luka-luka pada kulit (lesions) di sekitar alat kelamin yang akan sembuh sendiri setelah sekitar tiga minggu dan bisa muncul lagi di lain waktu (recurrence). HSV 2 dapat ditularkan dari ibu ke bayi saat melahirkan dan mungkin pula mengakibatkan keguguran atau cacat mental. Resiko penularan ke bayi meningkat jika terdapat lesions di sekitar liang vagina. Hingga saat ini belum ada obat untuk menghilangkan HSV 2. Namun obat seperti Acyclovir biasanya diberikan untuk menekan pertumbuhan, mencegah recurrence, dan meminimalkan penyebaran virus.

Sumber: mitralab.com.
Axact

KAOS DAKWAH

KAOS DAKWAH adalah blog membahas tentang cara pembuatan Kaos Dakwah sampai bagaimana cara menjual Kaos Dakwah Online maupun offline, Silakan cari artikel di blog ini..Terima Kasih telah berkunjung di blog sederhana ini.

Post A Comment:

0 comments: